Home Blog

Melihat Pola Makan yang Dapat Berubah-ubah

0
Pola seleksi makanan senantiasa berubah-ubah
Pola seleksi makanan senantiasa berubah-ubah

Pola seleksi makanan senantiasa berubah-ubah,baik bagi orang dewasa maupun bagi bayi. Penjelasan mengenai berbagai perubahan itu dapat ditemukan pada proses komoditisasi. Komoditisasi makanan bayi merupakan proses di mana bahan pangan bayi (ASI, pengganti ASI dan makanan tambahan), bergeser dari suatu hak azasi manusia dengan nilai kegunaan yang berlandaskan hubungan pribadi dengan kebersamaan produk konsumsi, menjadi suatu barang tukaran suatu komoditas dengan harga tertentu. Sepanjang kontroversi susu buatan (infant fonnula), telah kami identifikasi beberapa hal yang melatarbelakangi perubahan itu. Dalam pada itu, Mary Douglas menunjukkan kepada kami sifat kompleks dari pergeseran itu. “Apakah yang menjadi petunjuk dan pengaruh yang memilih-milih aneka barang mewah dan proses modern yang pada mulanya belum terkenal, kemudian mulai terkenal namun kurang perlu, sehingga akhirnya menjadi mutlak perlu” (1979: 98)? Beberapa di antara gaya pemilih itu bersifat ekonomis dan mencerminkan, misalnya, ketersediaan makanan. Namun karena konsumsi makanan berstruktur kebudayaan, klasifikasi bahan pangan merupakan gaya seleksi yang perlu diperhatikan pula. Salah satu dasar klasifikasi ialah peringkat bahan pangan berdasarkan nilai relatifnya, mulai dari makanan bergengsi atau berstatus tinggi sampai pada pangan musim kelaparan, atau pangan untuk kaum miskin. Pangan bergengsi status tinggi lazimnya khusus disediakan untuk tokoh-tokoh dan peristiwa yang penting-penting dan biasanya berharga mahal, lebih sulit diperoleh, atau di-asosiasikan dengan golongan yang dominan dan berkuasa. Daging hewan panggang pada umumnya merupakan makanan bergengsi. Pangan untuk korban musim kelaparan (famine food), yang mencerminkan kekurangan dana atau sulitnya memperoleh pangan, jarang dihidangkan di muka umum. Pada umumnya pangan itu direbus, agar jangan terbuang se,clikit pun. Namun belum tentu pangan itu kurang bergizi. Bahkan di Kenya sayur-mayur yang disebut sukuma wiki (“pangan yang hanya cukup untuk satu pekan”), sesungguhnya merupakan sumber vitamin yang bermutu, namun di Nairobi makanan ini dipandang sebagai makanan untuk kaum miskin.

Ada penentuan peringkat bahan pangan yang lebih rumit asal-usulnya. Pergeseran pilihan pada beras putih dan roti putih dari beras merah dan roti berwarna coklat sungguh sulit dipahami, karena jenis makanan yang tersebut belakangan lebih bergizi. Namun roti putih dan beras putih diasosiasikan dengan status selama berabad-abad. Goody menegaskan bahwa di Eropa, sewaktu tuan •tanah feodal memiliki penggilingan gandum, rakyat mencoba menghindari pembayaran upah untuk penggilingan gandum dan pembakaran roti. Rakyat jelata dan kaum pembantu makan roti berwarna coklat, sedangkan roti putih yang dibuat dari tepung terigu gilingan khusus disediakan bagi tuan tanah. Demikian pula beras gilingan mahal harganya, dan biaya tinggi itu dapat dihindarkan dengan menggunakan beras tumbuk dalam rumah tangga bangsa Asia. Karena tuan tanah menguasai kelebihan persediaan beras, ia menarik manfaat dari lebih awetnya beras gilingan. Dengan demikian, pengendalian tenaga kerja penduduk melatarbelakangi perbedaan golongan yang secara simbolis dikaitkan dengan beras putih dan roti putih yang memerlukan pengolahan lebih lanjut (1982: 231-232).

Penilaian pangan bergengsi dan pangan musim kelaparan sangat dipengaruhi oleh proses delokalisasi, yaitu bertambahnya ketergantungan pada energi dan sumber daya ekstern pada suatu komunitas sebagai akibat dari modernisasi. Peralihan pada pemakaian botol susu dan susu bayi buatan merupakan bagian dari proses delokalisasi sumber daya pangan yang diperlancar oleh persepsi makanan Barat sebagai barang bergengsi. C,oca Cola merupakansuatu contoh yang jelas. Ritenbaugh mengemukakan bahwa pesatnya sukses pangan Barat di negara-negara berkembang bukan hanya menunjukkan keefektifan kaum produsen, melainkan juga “kesediaan penduduk untuk mengubah pola konsumsi pangannya sendiri dengan tujuan mengejar status” (1978: 111). Bila jenis pangan tertentu dinilai bergengsi tinggi atau rendah, maka orang akan memilih jenis pangan yang akan meningkatkan citra dirinya. Cora du Bois juga mengeksplisitkan asumsi itu dalam karyanya di Alor, di mana ia melihat bahwa “bila seseorang makan seperti golongan yang dijunjungnya, ia akan berhak mengidentifikasi diri dengan golongan itu” (1941: 655). Sebaliknya Goody mengemukakan bahwa kaum elite di Ghana lebih menyukai resep masakan dan jenis pangan yang tradisional terdiri atas bubur dan acar, juga setelah banyak berhubungan dengan pangan gaya Eropa. Di Ghana, resep masakan tidak banyak dibedakan menurut golongan masyarakat (1982: 177).

Proses yang membuat suatu negara tergantung pada bahan pangan impor dan pola pangan asing oleh McGee disebut “kolonialisme pangan” (1975: 4). Ketergantungan semacam itu acapkali diawali oleh pengalaman penjajahan, di mana penduduk asli menginginkan jenis pangan yang pada mulanya dimakan oleh kaum elite bangsa asing. Pola ini pada mulanya mempengaruhi kaum elite penduduk asli, lalu menyebar mencakup penduduk pada umumnya. Sementara itu bangsa yang terjajah mungkin akan sejahtera lebih lama.

Menganalisa Kaitan Olah Selera dengan Makanan

0
Proses dari alih selera (taste transfer) dari benda-benda dan bahan pangan

Proses dari alih selera (taste transfer) dari benda-benda dan bahan pangan sebagai simbol status di negara-negara yang berkembang kira-kira sebagai berikut:

  1. Benda atau bahan pangan itu telah dibawa oleh keluarga bangsa penjajah atau bangsa asing lainnya (nilai kegunaan);
  2. Benda-benda itu diimpor untuk keluarga bangsa penjajah atau bangsa asing lainnya;
  3. Benda/bahan pangan itu mulai digunakan pula oleh golongan elite pen-duduk pribumi (nilai pertanda yang baru);
  4. Kebutuhan golongan menengah bangsa pribumi akan benda/pangan itu sebagai simbol status;
  5. Persediaannya bertambah banyak (mengurangi nilainya sebagai simbol status bagi elite penduduk pribumi);
  6. Mulai diproduksi versi dalam negeri;
  7. Benda/bahan pangan itu dikehendaki pula oleh penduduk pribumi golongan pendapatan rendah berdasarkan nilai pertandanya;
  8. Benda/bahan pangan itu dipakai oleh bangsa pribumi golongan menengah hanya berdasarkan nilai kegunaannya;
  9. Suatu merek impor tertentu mengandung nilai pertanda bagi konsumen dari golongan berpendapatan tinggi;

10 Terjadi pemalsuan atau imitasi dari merek-merek tertentu;

  1. Kaum elite menggunakan simbol-simbol baru untuk menjauhkan diri dari benda atau bahan pangan yang keasliannya diragukan.

Siklus ini mengalami komplikasi lebih jauh karena ada sejumlah barang yang menjadi indikasi status di dunia Barat mulai diproduksi di negara-ne-gara yang berkembang, khusus untuk ekspor dan hanya muncul di pasar dalam negeri sekali-sekali saja (barang yang “jatuh dari truk”). Ketika baru muncul barang itu jelas dikenali sebagai benda-benda unggul dan diper-jualbelikan dengan harga tinggi sebagai barang kualitas ekspor. Di pusatpusat perbelanjaan di Bangkok, baju kaos bikinan dalam negeri bersaing dengan baju kaos kualitas ekspor yang dijual dengan harga dua kali lipat. Dengan mulai diproduksinya barang-barang prestise, termasuk pakaian jadi, tas, dan barang perhiasan di negara-negara yang berkembang, timbul masalah keaslian yang baru. Tanda-tanda barang produksi mutu tinggi, seperti label dari kulit, lambang buaya, dan sebagainya dilepaskan dari barang aslinya, lalu dijual kodian kepada pedagang-pedagang eceran bahkan juga kepada konsumen, yang melekatkan label itu pada barang yang lain. Lalu kaum pelanggan yang membeli barang khusus demi nilai pertandanya, tidak lagi dapat memastikan keaslian dari barang yang dibelinya.

Ada barang-barang produksi dunia Barat, seperti misalnya ember plastik, yang digemari orang di negara-negara berkembang, karena harganya lebih murah, lebih efisien atau lebih nyaman daripada barang buatan dalam negeri yang digantikannya. Barang semacam itu hanya dapat dijadikan se-bagai simbol status bila persediaannya langka, atau karena diketahui barang produksi Barat, atau karena dipandang sebagai pertanda modernisasi dan kemajuan.

Sekalipun proses penciptaan simbol status masih kurang dipahami, jelaslah bahwa pemakaian botol susu bayi merupakan simbol status belum lama berselang, dan bahkan masih tetap demikian kedudukannya di daerah pedesaan negara-negara berkembang. Untuk memahami proses itu, ada gunanya membedakan modus pemberian makanan dengan barang produksi makanan itu. Ingatlah, bahwa bertambah luasnya pemakaian botol susu bayi mencerminkan dua macam pergantian, pertama pergantian makanan (ASI diganti dengan pengganti ASI yang wajar ataupun yang kurang wajar), dan kedua pengganti proses penyusuan (penyusuan ibu diganti dengan botol susu bayi). Untuk dapat memahami penciptaan simbol status ini, terlebih dulu akan kami bahas pengembangan makanan bergengsi dan kemudian akan kami bahas peralihan ke arah teknologi pemakaian botol susu bayi.

Pangan Bayi yang Jadi Komoditas

0
Komoditisasi Bahan Pangan Bayi
Komoditisasi Bahan Pangan Bayi

Di negara-negara berkembang, benda yang ada hubungannya dengan tokoh-tokoh yang bergengsi dapat menggariskan suatu kategori simbol status- untuk suatu golongan atau suku bangsa tertentu. Pegawai pemerintah jajahan, para dokter, atau pemuka agama dapat mempengaruhi penilaian dari benda-benda tertentu. Namun baik para ahli riset pemasaran maupun kaum pakar sosiologi masih ragu-ragu apakah penduduk cenderung terpengaruh oleh penduduk dari golongan yang lebih tinggi ataukah hendak menyesuaikan diri dengan perilaku sesama warga golongan sendiri. Barnett mengemukakan pandangan bahwa sementara penduduk golongan menengah cenderung berusaha menandingi penduduk golongan lebih tinggi, pendudUk golongan rendah lebih dipengaruhi oleh perilaku warga sesama golongan rendah. (1953: 315). King beranggapan bahwa setiap golongan akan dipengaruhi oleh golongan dari lapisan langsung di atasnya, dan bukan oleh golongan lapisan tertinggi (1964: 111). Para ahli riset perilaku kaum konsumen yakin bahwa kaum pelanggan akan membeli suatu benda berdasar makna khas dari benda itu. Buktinya ialah bahwa kaum konsumen akan lebih suka membeli jam tangan buatan Swiss, padahal jam tangan kwarsa lebih murah harganya dan lagi lebih tepat jalannya. Di negaranegara yang sedang berkembang pembelian dan penggunaan botol susu bayi, jam tangan Swiss, tas Pierre Cardin, dan Coca Cola mencerminkan upayanya agar lingkungannya akan dapat secara lebih efektif mengkomunikasikan identitas mereka sebagai kaum konsumen yang modern.

 

Komoditisasi Bahan Pangan Bayi

Diterimanya barang-barang dari dunia Barat di negara-negara berkembang berlandaskan pada masyarakat politis-ekonomis yang serba kom-pleks. Ada berbagai benda yang seakan-akan menimbulkan asosiasi sebagai “makanan surga” seolah-olah bila bersentuhan dengan “ghettoblasters”, Coca Cola, dan poster bintang rock, “orang sana” akan segera berubah menjadi “orang kita”. Gagasan tentang kekuasaan berkat sentuhan itu termasuk bagian dari proses penciptaan simbol status di wilayah Amerika Utara: para pengejar status ingin bersentuhan atau memiliki sesuatu bendayang ada kaitannya dengan suatu peristiwa atau dengan seorang tokoh yang terkenal, seperti misalnya batu-batu yang dibawa dari bulan, ataupun pakaian yang pernah dikenakan oleh seorang bintang film Hollywood.

Dalam suatu pembahasan tentang proses penciptaan makna dari sesuatu benda, Gottdiener merinci lima cara untuk menganalisis berbagai benda (1985: 991). Suatu benda dapat didekati dengan cara: (1) fisik: menilik bahan benda itu; (2) mekanis: berkenaan dengan nilai penggunaannya; (3) ekonomis: mengenai status atau pertandanya; (4) secara semantik: hubungannya secara luas dengan benda-benda sejenis. Proses sebuah benda memperoleh nilai pertanda sosial yang mantap disebutnya trans fungsionalisasi. Pada tahap pertama dari proses itu, produsen menghasilkan benda itu berdasarkan nilai tukarnya, sedang konsumen membelinya atas dasar nilai kegunaannya. Pada tahap kedua, benda-benda itu diubah dan disesuaikan dengan selera oleh pemiliknya dengan menciptakan makna yang baru, yaitu nilai pertanda yang baru. Kaum produsen itu menciptakan makna benda ituberdasarkan nilai pertanda dari konsumen pada tahap ketiga atau tahap penciptaan makna. Pada taraf ini peranan dari iklan dan promosi menjadi sangat penting (Gottdiener, 1985).

Bourdieu, dengan menggunakan bukti-bukti yang diperoleh dari Prancis, menunjukkan betapa suatu perjuangan yang berkenaan dengan perebutan benda-benda ekonomis dan kebudayaan juga merupakan perjuangan untuk merebut pertanda dan perlambang sesuatu golongan. Ia lebih maju dari kaum penulis Iainnya dalam mengidentifikasikan sumber perbedaan selera antara berbagai golongan; yaitu kecenderungan menyukai jenis pangan khusus, musik khusus, kesenian dan film, yang dianggapnya diperoleh atas dasar asal-usulsosial, yaitu atas dasar pekerjaan dan pendidikan ayah seseorang (1984: 387). Dipandang dari perspektif ini, maka makna dari setiap benda terutama setiap benda yang menentukan kedudukan seseorang dalam urutan jenjang (hirarki) status bukanlah ditentukan oleh produsennya, dan bukan pula oleh pengiklan yang mempopulerkan benda itu, melainkan sudah dari semula hadir dalam sandi-sandi simbolik dari masyarakat khusus itu. Itulah karenanya sulit untuk menggunakan benda-benda itu untuk menuntut pengakuan lintas batas negara di negara-negara maju. Tuntutan yang salah segera diketahui sebagai sesuatu yang kurang patut.

Dengan demikiansandi nilai pertanda mendahului fungsionalitas benda-benda itu maupun nilai kegunaannya dan kebutuhan perorangan. Ga-gasan utama mengenai selera dan gaya hidup yang dipergunakan oleh Bourdieu dan oleh kaum periset pasaran telah berakar pada nilai asli historis dan kultural pada setiap komunitas atau setiap subkelompok yang membeli benda-benda itu. Karena itu pula barang produksi yang sama mempunyai makna yang berlainan di negara-negara maju dan berkembang. Nilai pertanda itu berasal dari sumber kebudayaan yang berlain-lainan; maka walaupun nilai kegunaan dan nilai tukarnya dipandang berbanding di negara-negara maju dan berkembang, namun kaitan antara benda dengan pembelinya, nilai pertandanya dan kon teks penggunaan jeIas berbeda sama sekali.

Konsumsi Susu Botol pada Bayi bisa jadi Gantikan Fungsi asli Ibu

0
Pemberian susu botol melampau nilai fungsional asli
Pemberian susu botol melampau nilai fungsional asli

SUATU tema yang banyak dikemukakan dalam kepustakaan kaum penganjur kontroversi susu formula ialah bahwa pemberian susu botol dan penggunaan bahan pengganti ASI diberi makna yang jauh melampaui nilai fungsional asli, dan dijadikan simbol status (lambang kebesaran) dalam proses pembaratan dan modernisasi di negara-negara Dunia Ketiga. Sekalipun alasan yang dikemukakan masuk akal, namun sangat sulit dibuktikan, terutama karena sedikit sekali dilakukan riset mengenai simbol status dan cara penciptaannya.

Pada tahun 1973, Berg menyatakan bahwa “urbanisasi dan modernisasi serta nilai-nilai yang baru” banyak mempengaruhi mundurnya kelaziman ibu menyusui bayinya. “Menyusui bayi sering dipandang sebagai sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman, bahkan juga sebagai kegiatan kampungan yang tidak sopan Di negara-negara berkembang, semakin canggih penduduknya semakin kurang kaum ibu menyusui bayi, susu botol menjadi suatu simbol status (1973: 99). Latham juga mengacu pada pengaruh dunia Barat yaitu “terdengar anggapan bahwa lebih mulia, lebih bergaya, dan lebih canggih memberikan susu formula. Menyusui bayi dipandang sebagai kelakuan yang primitif, susu botol telah menjadi suatu simbol status” (1975: iii). Interpretasi secara simbolik sebagai salah satu faktor dalam tersebarnya pemakaian susu botol dijelaskan lagi oleh Jellife dan Jellife: “Barang hasil pabrik semakin berpengaruh sebagai lambang dari kecerdasan, kemajuan dan modernisasi berbanding dengan kelaziman biologis dan metode tradisional yang kuno dan ketinggalan zaman, termasuk menyusui bayi” (1978: 185). Pemberian susu botol menjadi simbol status yang dapat di-jangkau khalayak (Jellife & Jellife, 1978: 223).

Apakah yang dikatakan oleh para ahli ilmu sosiologi mengenai proses penciptaan simbol status? Dalam karya dininya, Veblen (1912) menonjol-kan sifat kemubaziran dari barang-barang yang merupakan simbol status. McCracken (1986) mengecam Veblen yang terlalu banyak menyoroti bendabenda sebagai lambang kebesaran dan memusatkan perhatian pada peranan benda-benda untuk mengkomunikasikan sesuatu mengenai status dan kekayaan seseorang.

Baudrillard mengakui pentingnya arti karya Veblen mengenai pen-ciptaan klasifikasi sosial. Sekalipun Veblen “mengemukakan sifat logis dari diferensiasi itu sebagai lebih banyak dalam ungkapan perseorangan dan bukan dalam ungkapan segolongan, dan lebih menonjolkan soal interaksi bergengsi daripada struktur pertukaran barang dengan cara yang jauh lebih unggul daripada yang diterapkan oleh orang-orang yang mengikutinya dan oleh orang-orang yang mengaku telah mengejar dan meninggalkannya, Veblen menyajikan penemuan dari suatu prinsip analisis sosial yang menyeluruh, dasar bagi logika yang radikal dalarn mekanisme diferensial itu” (1981: 76).

Fungsi pertanda dari barang konsumsi akan memungkinkan seorang pe-ngamat meramalkan sesuatu mengenai seseorang yang memiliki suatu benda tertentu. Seseorang yang tidak dikenal akan dipandang lebih layak untuk dikenal karena keterkaitan orang itu dengan benda X, karena keter-kaitannya itu menimbulkan suatu asumsi tertentu mengenai diri orang itu. Dengan demikian, fungsi pertanda dari berbagai benda akan menjadi dasar bagi penciptaan suatu stereotip.

Benda-benda yang dipandang sebagai simbol status senantiasa berganti-ganti, sehingga menjadi sulit untuk mengandalkan fungsi pertanda bagi setiap subkelompok dan pada setiap saat. Maka yang perlu dipahami baik-baik ialah soal penciptaan dan pemunculan simbol status itu.

Dengan mengacu pada fungsi pemasaran sesuatu benda, penjangkauan sesuatu benda harus terbatas atas dasar hal-hal tersebut di bawah:

Harga: barang yang berharga mahal dengan sendirinya terbatas

keterjangkauannya karena tingginya harga. Susu bayi buatan, kopi instan, dan sebagainya, mungkin pada permulaannya hanya tersedia di toko-toko yang hanya dikunjungi oleh golongan atas. Karena mahal harganya, barang itu sulit dijangkau oleh penduduk golongan pendapatan menengah dan rendah.

Kelangkaan: hanya tersedia jumlah yang terbatas. Karena persediannya terbatas, akan meningkat nilai-tukar serta juga nilai pertandanya (misalnya medali dan lencana Olympiade, baju kaos pelari Marathon, hadiah dari perlombaan Bayi Sehat, piala pertandingan-pertandingan bola gelinding, – yang dibubuhi tanda tangan asli dari pengarangnya, karya seni, barang antik, barang pusaka suku-suku tertentu).

Jarak yang jauh: barang impor yang berasal dari negara jauh, cendera mata dari kota-kota yang jauh, oleh-oleh kaum peziarah ke kota suci. Asosiasi dengan tokoh-tokoh yang berstatus tinggi, yaitu status sejati maupun semu (benda bekas milik atlet yang tenar, atau bekas milik bintang film Hollywood).

Mengubah Selera, Program Diet Terbaik

0
Program yang mengharuskan orang-orang secara pribadi untuk mengubah makanan mereka
Program yang mengharuskan orang-orang secara pribadi untuk mengubah makanan mereka

Navarro memakai contoh yang serupa mengenai program-program yang mengharuskan orang-orang secara pribadi untuk mengubah makanan mereka dari yang tidak sehat ke makanan yang sehat. Ini menghindari pertanyaan tentang apa karenanya orang mengkonsumsi makanan tertentu dan tidak memperhatikan kekuasaan dari kepentingan perusahaan dalam menetapkan pola produksi dan konsumsi dari makanan. Navarro menge-mukakan bahwa “potensi yang terbesar untuk memperbaiki kesehatan rak-yat kita bukanlah terutama melalui perubahan-perubahan dalam tingkah laku seorang secara pribadi, tetapi terutama melalui perubahan-perubahan dalam pola-pola kontrol, struktur dan tingkah laku dari sistem ekonomi dan politik kita” (1976: 128). Di sini kita dapat melihat kesejajaran dengan kampanye-kampanye ASI yang menekankan pada perubahan tingkah laku perorangan dan para wanita dan bukan pada perubahan-perubahan struktur pada lembaga-lembaga.

Ada kesejajaran dalam sejarah promosi alat kontrasepsi dan promosi ASI. Keduanya dapat dipandang sebagai kampanye untuk meningkatkan kebebasan dan hak memilih dari para wanita secara ptibadi; keduanya berkaitan erat dengan masalah-masalah sosial dan ekonomi yang lebih luas mengenai produksi dan reproduksi; dan kedua kampanye tersebut dituduh oleh lawan-lawannya sebagai komplotan komunis. Kampanye Liga Keluarga Berencana “dibantu dengan emas Moskou,” menurut Boston Post, Juli 25, 1916 (Gordon 1978: 161). Koalisi Aksi Formula Susu Bayi dan kelompokkelompok penganjur yang lain dituduh sebagai “orang-orangMancis yang berbaris di bawah bendera Kristus” (Nickel 1980). Keduanya merupakan isu-isu kaum feminis radikal secara potensial yang menuntut perubahanperubahan struktural dalam posisi dan kondisi para wanita. Namun promosi-promosi keluarga berencana dan promosi ASI dengan mudah dapat bebas dari politikalisasi dan radikalisasi jika para ahli kesehatan mengambil alih tanggung jawab untuk mentatalaksanakan praktek menyusui dan keluarga berencana. Gordon mengemukakan bahwa “keluarga berencana telah gagal melampaui lapisan-lapisan kelas karena ia tidak cukup feminis. Suatu gerakan keluarga berencana feminis akan memperjuangkan perluasan pilihan-pilihan bagi wanita, memperluas hak-hak mereka untuk memilih, tidak memaksakan suatu teori ekonomi atau politik tertentu kepada mereka ” (1978: 145). Keterlibatan para ahli kesehatan dalam persoalan keluarga berencana mengubah tujuan dan prioritas kampanyekampanye itu menjauh dari persoalan-persoalan feminis. Pada awal tahun 1920-an, kebanyakan para dokter menentang kontrasepsi (Gordon 1978: 152). Tetapi para ahli kesehatan mendukung gerakan keluarga berencana itu, asal mereka bisa mendapatkan “pengawasan penuh dan pembatasan distribusi” mengenai baik alat kontrasepsi dan maupun informasi tentang kontrasepsi (Gordon 1978: 175).

Kesejajaran dengan kampanye-kampanye promosi AS sungguh sangat merisaukan. Kalau para dokter pria mendefinisikan kontrasepsi atau menyusui bayi sebagai kewajiban wanita dan mempunyai monopoli atas informasi dan pengaturan, maka kepentingan para wanita sebagai pribadi mungkin dengan mudah tidak diperhatikan. Para ahli kesehatan tidak selalu sangat sensitifatau tanpa prasangka tentang kontrasepsi dan praktek menyusui. Akan tetapi ada satu perbedaan yang penting antara dua kampanye tersebut. Tekanan-tekanan komersial mendukung keluarga berencana dan perdagangan alat-alat kontrasepsi sangat menguntungkan lebih dari tiga miliar dolar dalam tahun 1979. Tetapi tidak ada kepentingan-kepentin-gan yang dapat melindungi praktek menyusui (Minchin 1985: 193), dan sebagaimana yang telah kita saksikan, tekanan-tekanan komersial terhadap para ahli kesehatan mendukung penggunaan formula susu bayi. Sebagai hasilnya ialah kampanye-kampanye untuk mempromosikan ASI dan persetujuan medis untuk kelompok-kelompok pendukung ASI seperti La Leche League bersama dengan pelayanan rutin rumah sakit yang berten-tangan dengan praktek menyusui dan promosi komersial dari formula susu bayi di negara-negara maju maupun yang sedang berkembang, suatu kea-daan yang menurunkan penilaian kontroversi yang muncul dari medikali-sasi formula susu bayi itu.

Akhir-akhir ini, para antropolog medis mencari jalan untuk menginte-grasikan pendekatan-pendekatan empiris, klinik, penafsiran, pengertian, penyaranan dan neo-Marxis menjadi suatu antropologi medis kritis yang baru. Antropologi medis kritis meliputi pertanyaan struktur makro yang luas, peranan kekuasaan dalam kehidupan masyarakat dan cara bagaimana biomedis dibangun secara kultural (Loek 1986: 110). Dari perspektif ini, pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas seperti medikalisasi dari pemberian makanan bayi, dapat diteliti selanjutnya.

Mengkampanyekan Program Pemberian ASI di Kota dan Desa

0
Kampanye-kampanye promosi ASI merupakan strategi yang sudah mantap di perkotaan dan pedesaan
Kampanye-kampanye promosi ASI merupakan strategi yang sudah mantap di perkotaan dan pedesaan

Kampanye-kampanye promosi ASI merupakan strategi yang sudah mantap di perkotaan dan pedesaan Thailand. Rencana pembangunan lima tahun ke lima untuk Thailand (1982-1986) memasukkan sebagai salah satu tujuannya: mempertahankan penggunaan ASI sepenuhnya di antara 90% dari para ibu di pedesaan sampai bayi berusia 6 bulan.

Banyak kampanye promosi dipusatkan di Timur Laut Thailand tempat angka memulai menyusui bayi yang tertinggi dan jangka waktu terpanjang. Sebuah proyek baru dimulai, yang terutama ditujukan pada para ahli kesehatan dengan tujuan untuk memperbaiki cara pemberian makanan kepada anak di sembilan rumah sakit di Bangkok dengan cara mengubah rutin rumah sakit dan kursus-kursus latihan dalam tata laksana laktasi. Pada awalnya, tim-tim mengikuti latihan selama empat minggu di Kalifornia. Sekembalinya, timtim tersebut, yang terdiri dari seorang dokter anak dan seorang dokter ahli kandungan serta perawat penyakit kandungan, mengadakan latihan tentang tata laksana laktasi untuk para petugas mereka. Walaupun tujuan untuk meningkatkan penggunaan ASI dan mengurangi pemberian susu dengan botol yang berisi formula susu bayi di rumah sakit-rumah sakit di Bangkok adalah terpuji, namun dengan menitikberatkan perhatian pada rumah sakit dan para ahli kesehatan, memperkuat medikalisasi makanan kepada bayi.

Di sebuah rumah sakit pemerintah yang besar di Bangkok, promosi ASI meliputi juga klinik pemeriksaan payudara untuk menetapkan kesulitan dan hal-hal abnormal pada payudara, ceramah kelompokkelompok yang sangat menganjurkan penggunaan ASI, dan tes-tes pendek tentang pengetahuan para ibu tentang menyusui. Bila mereka lulus dari “tes” tersebut mereka menerima cap di kartu pasien yang menyatakan bahwa mereka telah lulus dari tes tentang ASI. Walaupun catatan-catatan menunjukkan angka praktek menyusui sebanyak 100% pada waktu diperbolehkan pulang, kira-kira setengah dari mereka menghentikan menyusui bayinya sesudah satu minggu.

Kebanyakan kampanye ASI diselenggarakan melalui rumah sakit-rumah sakit dan Departemen Kesehatan, tetapi ada beberapa bukti bahwa rumah sakit-rumah sakit mungkin tidak termasuk tempat-tempat yang paling efektif untuk mempromosikan ASI. Dalam penelitian mereka tentang pengaruh masyarakat mengenai penggunaan ASI di rumah sakit-rumah sakit di London, Hart dan Icawan-kawan menyimpulkan bahwa usaha untuk mempromosikan ASI mungkin akan terbukti mahal dan bahwa sudah tentu rumah sakit itu tidak dapat memberi syaratsyarat yang esensial untuk laktasi yang berhasil, yang meliputi:

  1. Suatu kemauan yang sungguh di para ibu untuk menyusui bayinya. Para ibu mungkin sekali dapat diyakinkan tentang manfaat ASI jika mereka bertemu, ketika mereka hamil, dengan para ibu yang sudah melahirkan dan yang sudah menyusui bayinya.
  2. Suatu lingkungan yang santai untuk meneruskannya. Suatu lingkungan santai yang terbaik adalah yang diberikan oleh rumah ibu itu sendiri.
  3. Pemberian nasihat yang konsekuen dan terus-menerus selama jangka waktu menyusui telah mantap (Hart et aL 1980: 186-187).

Rumah sakit-rumah sakit mungkin akan terdorong untuk mempromosikan penggunaan ASI karena penghematan biaya: sebuah rumah sakit di Bangkok melaporkan penghematan 700 botol formula susu bayi sehari. Insentif finansial ini hanya akan efektif bila rumah sakit itu belum menerima persediaan gratis dari formula susu bayi.

Greiner (1982) membedakan antara kebijaksanaan yang melindungi, mendukung dan mempromosikan ASI, dan mengatakan bahwa di negaranegara berkembang prioritas yang terendah seharusnya adalah promosi. Usaha promosi mempengaruhi lebih sedikit kaum wanita dan secara potensial yang paling kurang efektif dan yang paling kurang efektif biaya tentang faktor-faktor waktu, uang dan keahlian. Usaha-usaha promosi memprasyaratkan bahwa langkah-langkah untuk mendukung dan me-lindungi praktek menyusui sudah ada. Memang, di negara-negara berkem-bang, usaha untuk melindungi praktek menyusui dengan memastikan bahwa susu pengganti ASI tidak dipromosikan secara aktif melalui sistem kesehatan, jauh ketinggalan dari usaha-usaha untuk mengembangkan kam-panye-kampanye promosi ASI di rumah sakit. Kampanye ASI secara etis adalah kompleks, karena pendapat bahwa para petugas dan lembaga-lembaga kesehatan berhak mencoba mempengaruhi keputusan pribadi seorang ibu tentang bagaimana cara memberi makanan kepada bayinya. Dalam modelbiomeths, para dokter mempunyai tanggungjawab terhadap pendidikan kesehatan dan kesehatan masyarakat, sedangkan masyarakat seharusnya menjadi penerima servis dan nasihat yang pasif dari para ahli kesehatan (lihat Rifkin 1985). Pendekatan untuk mendidik para ibu ten-tang bagaimana cara menyusui bayinya mudah sekali tergelincir menjadi memberi pidato da,n menyalahkan para ibu tentang keputusan-keputusan mereka mengenai pemberian makanan kepada bayinya. Untuk para ahli kesehatan, menyusui bayi diperlakukan sebagai suatu masalah kepatuhan pasien secara pribadi, khususnya jika para ibu tidak menyusui bayinya dengan cara yang dinasihatkan oleh para dokter mereka.

Usaha dalam Mempromosikan Pemberian ASI

0
Promosi ASI merupakan suatu titik awal usaha
Promosi ASI merupakan suatu titik awal usaha

Promosi ASI merupakan suatu titik awal usaha untuk memperbaiki praktek pemberian makanan kepada bayi di masyarakat-masyarakat Amerika Utara dan internasional. Usaha-usaha promosi untuk meningkatkan permulaan, lamanya dan frekuensi menyusui meliputi perubahan rutin rumah sakit, seperti misalnya kontak dini antara para ibu dan bayi-bayi yang baru dilahirkan, mengizinkan bayi ditempatkan sekamar dengan ibunya (rawat gabung) dan meneteki setiap kali bayi membutuhkan, dan melarang memberikan makanan pralekteral (sebelum ASI keluar) contoh-contoh formula susu bayi; melatih para ahli kesehatan mengenai tata laksana laktasi: menciptakan dan mendukung kelompok-kelompok penganjur penggunaan ASI; dan memulai kampanye melalui mass media. Kebanyakan dari aktivitas mempromosikan penggunaan ASI berpusat di rumah sakit. Kampanye-kampanye sering dibiayai oleh sumber-sumber luar dan dikembangkan oleh para ahli kesehatan Barat yang merupakan para konsultan yang dibayar tinggi oleh Rockefeller, Ford, WHO atau badan-badan bantuan bilateral. Jarang pembiayaan yang serupa diberikan kepada kelompok,kelompok penganjur ASI atau kepada kelompok-kelompok konsumen yang menolak peranan perusahaan-perusahaan farmasi multinasional di rumah sakit dan di masyarakat. Badan Pengembangan InternasionaI Swedia (SIDA) memang memberikan bantuan kepada kelompokkelompok ini. Apabila kelompok-kelompok yang meneliti tentang halangan-halangan struktural terhadap praktek menyusui, seperti misalnya kondisi-kondisi bekerja wanita, praktek pemasaran, dan Iingkungan miskin, tidak diberikan bantunan keuangan dan moral, maka kampanye-kampanye yang dipusatkan di rumah sakit untuk mempromosikan ASI merupakan contoh dari “main-main dengan sistem.”

Di empat kota tempat penelitian pemberian susu kepada bayi dilaksanakan, mempromosikan ASI dianggap sebagai bagian dari kebijaksanaan nasional dan kelembagaan. Sebuah rumah sakit pemerintah yang besar di Nairobi menyatakan dirinya mempromosikan ASI dan melarang memberikan formula susu bayi. Seorang perawat melukiskan betapa banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengurangi pemakaian formula susu di rumah sakit itu, walaupun perawat yang lebih muda tidak menyadari betapa besarnya kesulitan di masa yang lalu. Di ruangan untuk para ibu yang melahirkan dengan operasi Caesar, botol-botol susu bayi di letakkan dalam lemari-lemari di tiga dari empat ruangan, walaupun para ibu sudah mulai menyusui bayinya. Seorang ibu rupanya kesulitan untuk menyusui bayinya yang baru lahir karena puting susunya yang sangat pendek tidak dipersiapkan untuk menyusui bayinya. Satu-satunya perawat yang berpengalaman mengenai penggunaan ASI memperlihatkan kepada ibu itu bagaimana caranya menarik keluar puting susunya untuk memudahkan bayi menyedotnya. Ibu itu kelihatannya merasa senang telah mendapat bantuan, walaupun ia tidak meminta kepada perawat itu untuk menolongnya.

Di luar sebuah klinik , untuk bayi-bayi yang kurang gizi di Nairobi, yang mempromosikan penyusuan bayi, seorang ibu duduk menggendong bayi kecil di dalam selendangnya. Ia menutupi bayi itu dengan sebuah handuk dan kelihatan seperti sedang menyusui bayinya, tetapi kemudian, ketika bayi itu berhenti minum, sebuah dot karet tiba-tiba muncul dari selendang itu. Rupanya ibu itu tidak mau para perawat melihat bahwa ia sedang memberikan susu botol kepada bayinya. Kemudian, seorang perawat melihat bahwa banyak ibu yang membawa botol berisi formula susu bayi ke klinik itu, walaupun merekajuga menyusui bayinya. Di tempat promosi ASI, pemberian susu botol merupakan suatu kekecewaan dan kegagalan yang nyata bagi para petugas klinik. Para perawat mengatakan bahwa promosi formula susu bayi di rumah sakit tidak begitu mencolok di tahun delapan puluhan, tetapi merasa bahwa kampanye promosi ASI tidak cukup efektif untuk mengurangi pemberian susu botol kepada bayi secara dini.

Di suatu rumah sakit swasta yang besar di Nairobi, kebanyakan pasiennya adalah orang-orang Asia yang kaya. Baru-baru ini telah diadakan per-ubahan untuk mempromosikan ASI dan menganjurkan untuk tidak menggunakan formula susu bayi. Poster-poster Nestle tentang perkembangan anak dan perawatan pra-lahir digantung di rumah sakit itu, tetapi nama perusahaan dan gambar-gambar produknya ditutupi. Sebuah kelompok lokal para ibu yang menyusui bayi mengajarkan seminggu sekali tata laksana laktasi dan memberikan penerangan kepada ibu-ibu yang baru melahirkan. Tetapi  petunjuk di ruang penyakit anak menganjurkan agar para ibu memberikan satu botol susu sehari sebagai pengganti ASI sehingga bayi itu tidak menjadi tidak suka pada rasa susu yang lain. Di sebuah rumah sakit swasta yang lain tempat mempromosikan ASI, kelompok penganjur penggunaan ASI lokal tidak disambut dengan baik karena saran-saran mereka bertentangan dengan nasihat para perawat rumah sakit itu. Di luar ruang bersalin, tempat para ibu dianjurkan agar menyusui bayinya, berdiri sebuah kereta berisi botol-botol susu bayi siap untuk penyerahan berikutnya. Sebuah rumah sakit yang lain mempromosikan ASI dengan menyuruh para perawatnya melakukan pemberian susu botol kepada bayi, sehingga para ibu akan lebih suka menyusui bayinya. Para perawat itu sangat menyukai pemberian susu botol kepada bayi yang baru lahir.

Apa sebenarnya kepetingang pengusaha makanan bayi

0
Kepentingan dasar perusahaan-perusahaan makanan bayi
Kepentingan dasar perusahaan-perusahaan makanan bayi

Kepentingan dasar perusahaan-perusahaan makanan bayi dan farmasi serta dari para ahli medis, muncul dari medikalisasi pemberian makanan bayi. Hubungan antara para dokter dan industri makanan bayi sering terbukti dalam perdebatan-perdebatan hangat selama kontroversi formula susu bayi tersebut. Kelompok penasehat kalori Protein (PAG= Protein Advisory Group) dalam penjelasan No. 23 tentang pemberian makanan bayi dan anak diubah dalam tahun 1973, “berbunyi seperti katalog tentang bagaimana meningkatkan penjualan formula susu bayi hal itu merupakan usaha pertama dari industri untuk mendapatkan persetujuan secara resmi mengenai produk-produk dan praktek-praktek perdagangan mereka” (Chetley 1986: 41). Para dokter ahli penyakit anak mempunyai hubungan yang erat dan produktif selama puluhan tahun. Misalnya, dalam tahun 1981, para Dokter Ahli Penyakit Anak dari Akademi Amerika menerima sebuah kontrak selama dua tahun dengan Abbott/Ross Labo’ ratories, seharga US $ 500.000 setahun, untuk dukungan sebagian dari penerbitan Pediatrics in Review (Chetley 1986: 114). Melalui bantuan finansial kira-kira sejumlah US $ 1,5 juta untuk periklanan farmasi di Canadian MedicalAssociation Joumal dalam tahun 1980, industri oba t-oba tan dengan sukses meyakinkan para dokter Kanada bahwa kepentingan industri adalah juga kepentingan para ahli medis (Lexchin 1984: 110-111). Hadiah-hadiah dan pujian-pujian untuk para dokter dari industri mungkin dianggap lebih bergengsi di negara-negara berkembang berhubung begitu sedikit orang yang mampu mendapat pendidikan medis. Berkonsultasi bila dianggap perlu, undangan untuk berkonperensi, dan hadiah-hadiah langsung berupa barang-barang medis, merupakan hal yang lebih penting lagi di daerah-daerah dengan pendapatan pribadi dan anggaran pengobatan terbatas (walaupun cukup lebih besar daripada pendapatan pribadi para ahli lainnya).

Perkumpulan-perkumpulan dokter di negara-negara berkembang mendapat keuntungan secara langsung dari para produser formula susu bayi. Dalam tahun 1977 misalnya, Perkumpulan Dokter dari Republik Domi-nika menerima US $ 80.000 dalam bentuk komisi penjualan produk-produk farmasi, setengah dari 1% hasil penjualan. Dalam tahun 1981, Nestle memberikan hampir US $ 250.000 untuk pembicaraan dan makanan pada seminar-seminar dan rapat-rapat medis, termasuk Perkumpulan Ahli Penyakit Anak Filipina (Chetley 1986: 13). Hubungan antara para ahli kesehatan dan industri merupakan kunci untuk memahami medikalisasi yang cepat dari pemberian makanan bayi. Minchin mengemukakan bahwa pada perusahaan-perusahaan formula bayi “kepentingan komersial yang besar sekali dari produsen formula susu bayi akan membuat mereka menafsirkan kenyataan dengan cara yang menguntungkan tujuan mereka sendiri. Mereka tidak akan mengakui bahwa terdapat risiko kesehatan yang cukup besar dalam suatu produk yang mereka jual mereka dan para peneliti yang bekerja untuk mereka” (1985: 4).

Persoalan yang lebih memprihatinkan ialah mengenai berapa banyak-nya penelitian tentang pemberian makanan bayi yang dibiayai secara langsung atau tidak langsung oleh perusahaan-perusahaan makanan anak dan obat-obatan. Dalam masalah-masalah yang berkaitan, kekhawatiran tentang kesehatan masyarakat bertentangan dengan keuntungan industri yang potensial, suatu pola yang sama muncul. Misalnya, hubungan antara merokok dengan kanker paru-paru kelihatannya benar, tetapi beberapa bagian dari penduduk meminta bukti yang langsung mutlak sebelum me-nerima peraturan legislatif. Bernarde menulis:

Satu-satunya jalan untuk mendapatkan tipe bukti demikian ialah dengan mengumpulkan beberapa ribu anak yang berumur kira-kira sepuluh tahun, membagi mereka dalam dua kelompok yang sama besar dan sebanding, mengurung mereka di dalam sebuah kamp dan mengawasi mereka selama beberapa tahun, kemudian satu kelompok disuruh merokok sedangkanyang lain dilarang. Karena pengaruh merokok pada umumnya dapat dilihat pada umur lima puluhan atau enam puluhan, maka dua kelompok ini harus dikurung sekurang-kurangnya selama empat puluh tahun, di bawah pengawasan para ilmuwan yang mencatat segala aktivitas mereka. Demikian dan hanya demikianlah, baru dapat diperoleh bukti langsung yang mutlak mengenai hubungan karena dan akibat. Karena eksperimen ini tidak mungkin, maka orang hanya dapat bertanya dalam hati mengenai motif mereka yang menuntut bukti “yang sebenarnya” (1973: 20).

Orang yang sinis mungkin menanyakan pula siapa yang membiayai penelitian untuk membuktikan segi-segi positif dari merokok. Demikian pula, industri mendapat keuntungan dari medikalisasi alkoholisme. Menurut Conrad dan Schneider, “industri minuman yang mengandung alkohol, misalnya, dengan kuat mendukung konsep penyakit dari alkoholisme, yang memusatkan perhatian pada peminum individual dan lepas dari teknik per-iklanan dan pemasaran industri tersebut” (1980: 276). Pengaturan yang secara timbal balik menguntungkan para peneliti dan industri dicerminkan dalam observasi oleh seorang ahli penyakit anak, yang muncul dalam sebuah artikel dengan judul “Peranan dari Industri Makanan dalam Mempromosikan Gizi Manusia” ia berkata bahwa bayi yang lahir sebelum waktunya mungkin merupakan tempat pengujian yang sangat mengasyikkan untuk pemberian makanan buatan” (Arneil, G., 1983: 106).

Penelitian faktor-faktoryang menentukan tentang pemberian makanan bayi adalah jelas secara empiris dengan informasi dari model pembuktian biomedis dan “benar.” Oleh karena itu, para peneliti yang berhati nurani harus hati-hati dalam menyimpulkan bagaimana promosi formula susu bayi, dan sebagainya, mempengaruhi keputusan para ibu tentang pemberian makanan bayi. Para peneliti takut akan kritik tentang disain-disain peneliti yang tidak sesuai, kualitas yang salah dan variabel-variabel yang tidak terkontrol. Dalam usaha untuk mengemukakan kasus yang terbaik, banyak peneliti empiris terlalu sibuk mengumpulkan, membersihkan dan memproses data untuk menanyakan tentang arti dan konteksnya dalam hubungan-hubungan penentu dari sistem-sistem biomedis. Pertanyaan sering diajukan dalam hubungan-hubungan yang lain dan dengan mudah sesuai dalam hubungannya dengan keadilan dan hak-hak konsumen.

Masalah Ilmiah terselubung di balik produksi susu formula

0
Persoalan ilmiah terhadap perusahaan-perusahaan formula susu bayi
Persoalan ilmiah terhadap perusahaan-perusahaan formula susu bayi

Pertentangan antara pandangan obyektif ilmiah yang tidak memihak dari para ahli medis dan retorik emosional dari kampanye penganjuran, sangat jelas diuraikan dalam suatu penerbitan dari Heritage Foundation oleh Carol Adelman (1983). Ia mengemukakan bahwa jika retorik emosional dan politis dari kontroversi ini telah disingkirkan, persoalan ilmiah terhadap perusahaan-perusahaan formula susu bayi dapat dikurangi menjadi lima pertanyaan (1983: 111). Dengan obyektif tinjauan ilmiah dari bukti-bukti dengan ketidakjelasan tentang data dasar, ia mengajukan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apakah pr’aktek menyusui telah menurun secara dramatis di negara-negara berkembang? (tidak),
  2. Apakah bayi-bayi yang diberi susu botol berasal dari keluarga-keluarga yang termiskin? (tidak),
  3. Apakah bayi yang diberi susu botol mempunyai. angka penyakit dan kematian yang lebih tinggi? (tak ada bukti yang mendukungnya dengan kuat),
  4. Apakah usaha-usaha promosi sangat mempengaruhi keputusan para ibu untuk menyusukan bayinya? (bukti-buktinya tidak pasti),
  5. Apakah ASI makanan bayi yang sempurna?

Pertanyaan ASI adalah makanan yang sempurna, memperlihatkan dengan jelas pencarian bukti secara selektif untuk mendukung keengganan para dokter anak untuk menyinggung perasaan perusahaan-perusahaan formula susu bayi. Ia meninjausuaturangkaian persoalan tentang ASI dan menyusui dimulai dengan mengutip Fomon, seorang tokoh terkemuka di Amerika tentang gizi bayi, bahwa “susu manusia bukanlah makananyang sempurna maupun lengkap” (Adelman 1983: 117).

Adelman menyimpulkan bahwa para bayi yang tidak mujur di negaranegara berkembang merupakan korban penelitian yang sembrono dan hubungan masyarakat yang bersikap bertahan, dan ia menegaskan bahwa ia mengharapkan agar di masa yang akan datang para pekerja kesehatan dan gizi ” memperbaiki kurangnya perhatian dan penyalahgunaan dari statistik, logika yang salah dan pemihakan secara terang-terangan yang menjadi ciri perdebatan fomula susu bayi itu” (1983: 126). Menjadi tugas para ahli kesehatan yang berjumlah terbatas dan para penganjur yang jumlahnya besar, untuk menjawab perhatian para kesehatan dengan usaha-usaha pendukung.

Menjawab pertanyaan-pertanyaan para dokter tentang penelitian pemberian makanan bayi tidaklah mudah, karena agar berhasilguna, pertanyaanpertanyaan itu harus berada dalam kerangka paradigma biomedis. Ini hanya memberikan jawaban sebagian atas persoalan-persoalan sosial, politik dan etik luas yang mendasari kontroversi formula susu bayi itu. Perhatikanlah bagaimana para dokter menjawab dokter yang lain: Dr. Steven Joseph mengemukakan walaupun percobaan-percobaan klinis dapat dilakukan secara acak di negara-negara berkembang, tetap menjadi pertanyaan apakah hal itu akan etis, melihat apa yang kita ketahui tentang keuntungan-,keuntungan dari penggunaan ASI (1981: 383). Akhirnya, seperti yang ditanyakan Joseph, siapakah yang harus membuktikannya? Minchin menjawab bahwa “tanggung jawab untuk membuktikannya selalu harus dipikul oleh mereka yang ingin mempromosikan atau mensahkan susu buatan sebagai pengganti suatu produk atau proses alamiah” (1985: 3).

Tak ada gunanya membantah bukti-bukti yang diajukan oleh Jayasuriya et al. dan Adelman, jika persoalan sebenarnya ada pada paradigma untuk mendefinisikan pertanyaan yang dapat ditanyakan. Untuk mencoba mela-kukannya berarti mengesahkan kerangka analisa yang mereka masukkan ke dalam kontroversi formula susu untuk bayi itu. Mereka benar sekali waktu mengatakan bahwa pengritik industri itu emosional. Uraian penganjuran bukanlah dimaksudkan harus tidak emosional atau tanpa perasaan. Uraian penganjuran itu dimaksudkan untuk menarik perhatian terhadap berbagai cara untuk memandang suatu persoalan, untuk me-maksakan suatu pengakuan terhadap fakta bahwa sesuatu adalah salah, tidak seimbang, tidak adil, diputarbalikkan. Bukti ilmiah yang obyektif tidak selalu ada mengenai faktor yang menentukan tentang menyusui, tetapi tentu ada bukti yang cukup untuk mempertahankan kelebihan ASI daripada pemberian susu buatan. Kedua pihak dari kontroversi itu men-gumpulkan bukti-bukti mereka secara selektif. Pertanyaan yang penting ialah mengenai siapa yang menentukan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dan memetik keuntungan dari jawaban-jawaban yang diberikan.

Susu Formula di Mata Ahli Kesehatan

0
Pandangan-pandangan dari para ahli kesehatan terhadap susu formula
Pandangan-pandangan dari para ahli kesehatan terhadap susu formula

Pandangan-pandangan dari para ahli kesehatan diketahui bahwa didukung oleh keseimbangan dari bukti ilmiah dan hal-hal yang obyektif non emosional, sedang pandangan-pandangan para penganjur dianggap tidak ilmiah dan emosional. Akan tetapi para ahli medis mengajukan alasan-alasan. Kami mendengar dari “para ilmuwan yang berpendapat bahwa semua jalan yang mungkin perlu untuk diteliti belum dilakukan penelitian, oleh karena itu masih terlalu dini untuk memutuskan apa yang akan dilakukan; orangorang yang berada di balik masalah ini berpendapat bahwa hal tersebut demildan kompleksnya dan hanya merupakanbagian dari suatu malaisedunia yang jauh lebih besar, sehingga tak ada gunanya untuk menyelesaikannya” (Chetley 1986: 150). Sebagaimana suatu uraian yang tidak begitu obyektif menyatakan, “para ahli itu sendiri telah cenderung mengundurkan diri dari persoalan rumit yaitu dari fakta-fakta ke persoalan yang tidak begitu sulit yaitu mengenai opini” (Jayasuriya, Griffiths dan Rigoni 1984: 27).

Lembaga Manajemen Kesehatan diJenewa, yang diketuai oleh R. Rigo-ni, seorang mantan wakil presiden dari suatu perusahaan farmasi yang besar, menerbitkan suatu kritik yang menarik tentang pertentangan ASI– susu botol, Judgement Reserved. Menurut para penulisnya, kedua belah pihak tidak memenuhi “standar pembuktian dan penganalisaan”, dan mengemukakan kekurangan-kekurangan yang amat penting yaitu:

  1. Menyalahgunakan statistik sembrono, menyesatkan dan terang-te-rangan memihak, dan sebagainya,
  2. Alasan-alasan epidemiologis yang tidak tepat,
  3. Pembedaan yang tidak tepat antara susu formula dan pemberian susu secara tradisional,
  4. Data penelitian yang tidak eukup (sporadis, pendekatan standar yang sangat kurang),
  5. Kurang perhatian terhadap gejala kurang gizi para ibu,
  6. Kurang memperhitungkan dan mengatasi gejala kekurangan ASI,
  7. Kurang memperhitungkan kepentingan-kepetingan nasional yang bersaing,
  8. Tidak diperhatikannya hubungan-hubungan sosiokultural,
  9. Tingkah laku dan respon yang negatif terhadap kurangnya perhitungan Meddcalisasi dan Kontroversi dari para ahli kesehatan,
  10. Tidak adanya pendugaan terhadap hubungan-hubungan antara tingkat pendidikan dan praktek menyusui,
  11. Membesar-besarkan pengaruh praktek menyusui sebagai cara kon-trasepsi,
  12. Cara perawatan bayi yang baru lahir bukanlah hasil dari promosi for-muIa susu bayi,
  13. Kurangnya pemakaian potensi dari industri,
  14. Dimensi-dimensi ekonomi kurang dinilai,
  15. Pengawasan atas susu pengganti ASI kurang dievaluasi (Jayasuriya, Griffiths dan Rigoni 1984: 29-39).

Kumpulan campur aduk kritik dan komentar ini menekankan generalisasi yang berlebihan dari hasil-hasil studi para penganjur, memihak secara terang-terangan setiap “ilmuwan” yang mendukung pendapat para penganjur, dan meminta persoalan ini lebih banyak diteliti, tanpa mengulangi per-soalan pokok dari pertentangan itu.

Terpopuler!